Senin, 26 Februari 2018

Tulisan Sederhana


Kebersamaan pada Hari Minggu

Sepuluh hari sebelum jadwal aktif kuliah tanpa berfikir panjang aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Sesampai di Kampung halaman, mengingat rumahku sepi tak berpenghuni karena kedua orang tua dan adikku merantau di luar kota, aku memutuskan untuk pulang ke rumah nenek. Sembilan hari berlalu aku merasakan bosan dan sempat berfikir “ libur pulang ke kampung tapi kok nggak ada bahagia-bahagianya“, aku merasa ternyata diperantauan atau di kampung halaman sama saja tidak ada perbedaan karena sama saja tidak bisa bertemu dengan orang tua karena keadaan yang kurang mendukung.
Suatu hari, minggu pagi tiba-tiba aku mendapat pesan whatsApp dari pamanku, paman mengajak aku dan kakak sepupuku supaya ikut dengannya untuk menikmati hari minggu dengan berenang bersama tante dan anaknya di salah satu taman bermain air, waterpark namanya. Tanpa berfikir dua kali Aku dan kakak sepupuku pun mengiyakan untuk ikut walaupun sempat berfikir “ kita udah kuliah, tapi liburan masih dengan paman dan tantenya terus sih?” tapi tak apalah itulah keputusan kami, selagi gratis kenapa harus ditolak.
Mengingat rezeki tidak boleh ditolak akhirnya kami pun ikut. Dengan dua motor, aku satu montor dengan kakak sepupuku dan satu montor lagi untuk paman bersama istri dan anaknya yang masih kecil. Sesampai di sana sebelum menikmati  fasilitas yang sudah tersedia untuk berenang, kami melakukan pemanasan  terlebih dahulu untuk tubuh kami agar nantinya tidak terjadi hal-hal tidak  diinginkan.


Saat aku, kakak sepupu dan sepupu kecilku memutuskan untuk bermain air dengan memisahkan diri dari paman dan tante, tak lama kemudian tanpa disengaja aku melihat paman dan tante  dengan bahagia tertawa lepas sedang menikmati kolam renang berombak dengan menaiki ban pelampung yang hanya digunakan untuk dua orang, aku rasa mungkin inilah cara mereka mengeksperasikan kenangan masa mudanya dulu. aku dan kakak sepupuku menahan tawa melihat tingkah mereka. Setelah lelah karena beberapa jam kami berenang bermain  menikmati wahana air akhirnya kami memutuskan untuk segera berganti pakaian yang kami pakai kemudian memutuskan untuk pulang.
Di tengah perjalanan kami memutuskan untuk berpisah, paman bersama  keluarga kecilnya memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya dan aku bersama kakak sepupuku yang sebelumya harus langsung pulang ke rumah nenek, namun kami berencana nakal sedikit untuk  tidak langsung pulang ke rumah, karena jika kami langsung pulang ke rumah nenek pasti susah lagi harus merayu meminta izin pada nenek untuk keluar rumah. Kami pun langsung memerintahkan montor yang kami kendarai untuk melaju menuju rumah temanku untuk mengobati rasa rinduku dengannya.
Sesampai di rumahnya sembari menunggu teman yang lain datang kami sedikit berbincang-bincang dengan kalimat lawaknnya. Kami pun tertawa lepas, rasa bahagiaku bisa berkumpul dengan teman-temanku membuat efek lelah dari berenang hilang seketika. Tak lama kemudian teman yang kami tunggu telah  datang, kami  berempat  pun memutuskan untuk menikmati kebersaman kami di luar. Akhirnya, tanpa berpikir lama sekitar pukul 14:00 WIB  kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Randusanga indah tempat rekreasi sederhana 3R (termurah,terjangku, terdekat).
Kurang lebih sekitar dua puluh menit kami menempuh perjalanan  untuk sampai di lokasi. Setelah sampai di lokasi kami mencari tempat singgah yang nyaman untuk menikmati sumilir angin pantai di waktu siang menjelang sore saat itu. Sembari menikmati pemandangan ombak laut kami tak lupa kami memotret mendokumentasikan kebersamaan yang tercipta saat itu yang mungkin bisa saja tidak terulang kembali . Secara bergantian kami memotret tingkah gila dan alay kami yang tiba-tiba muncul karena kebersamaan ini. Mengingat waktu sudah sore, dan kami rasa kemoterapi kerinduan ini sudah cukup. Maka, kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku dan sepupuku memutuskan  pulang ke rumah untuk mencegah kekhawatiran nenek yang berlebihan.
Mega merah pun mulai terlihat dan matahari telah menenggelamkan diri ke arah barat suara adzan maghrib pun mulai terdengar oleh telingaku. Setelah melaksanakan sholat maghrib aku dan sepupuku segera bersiap-siap untuk bergegas untuk berangkat kondangan ke rumah teman kecil sakaligus teman sekolah madrasah dulu  yang sedang melakukan resepsi pernikahan yang akan segera diijab-sahkan oleh penghulu pada malam itu. Bukan aku saja yang datang memenuhi undangannya tetapi teman yang lain pun berdatangan bersama-sama, selain memenuhi sebagai tamu undangan kami juga merasa pertemuan ini seperti reunian sekolah madrasah. Setelah kami foto bersama teman yang sedang berbahagia merayakan pernikahannya, aku pun izin untuk pulang duhulu mengingat aku harus prepare untuk pemberangkatan kereta pagi pada esok harinya ke Semarang. Inilah perjalanan cerita kebersamaanku pada hari libur terakhir dengan keluarga dan teman-temanku sebelum berangkat ke tempat perantauan.

Semarang, 26 Februari 2018