Kebersamaan pada
Hari Minggu
Sepuluh hari sebelum jadwal aktif kuliah tanpa berfikir panjang aku
memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Sesampai di Kampung halaman, mengingat
rumahku sepi tak berpenghuni karena kedua orang tua dan adikku merantau di luar
kota, aku memutuskan untuk pulang ke rumah nenek. Sembilan hari berlalu aku
merasakan bosan dan sempat berfikir “ libur pulang ke kampung tapi kok nggak
ada bahagia-bahagianya“, aku merasa ternyata diperantauan atau di kampung halaman
sama saja tidak ada perbedaan karena sama saja tidak bisa bertemu dengan orang
tua karena keadaan yang kurang mendukung.
Suatu hari, minggu pagi tiba-tiba aku mendapat pesan whatsApp dari pamanku,
paman mengajak aku dan kakak sepupuku supaya ikut dengannya untuk menikmati
hari minggu dengan berenang bersama tante dan anaknya di salah satu taman
bermain air, waterpark namanya. Tanpa berfikir dua kali Aku dan kakak sepupuku
pun mengiyakan untuk ikut walaupun sempat berfikir “ kita udah kuliah, tapi liburan
masih dengan paman dan tantenya terus sih?” tapi tak apalah itulah keputusan
kami, selagi gratis kenapa harus ditolak.
Mengingat
rezeki tidak boleh ditolak akhirnya kami pun ikut. Dengan dua motor, aku satu
montor dengan kakak sepupuku dan satu montor lagi untuk paman bersama istri dan
anaknya yang masih kecil. Sesampai di sana sebelum menikmati fasilitas yang sudah tersedia untuk berenang,
kami melakukan pemanasan terlebih dahulu
untuk tubuh kami agar nantinya tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan.
Saat aku, kakak sepupu dan sepupu kecilku memutuskan untuk bermain air
dengan memisahkan diri dari paman dan tante, tak lama kemudian tanpa disengaja
aku melihat paman dan tante dengan
bahagia tertawa lepas sedang menikmati kolam renang berombak dengan menaiki ban
pelampung yang hanya digunakan untuk dua orang, aku rasa mungkin inilah cara
mereka mengeksperasikan kenangan masa mudanya dulu. aku dan kakak sepupuku menahan
tawa melihat tingkah mereka. Setelah lelah karena beberapa jam kami berenang
bermain menikmati wahana air akhirnya
kami memutuskan untuk segera berganti pakaian yang kami pakai kemudian
memutuskan untuk pulang.
Di tengah perjalanan kami memutuskan untuk berpisah, paman bersama keluarga kecilnya memutuskan untuk langsung
pulang ke rumahnya dan aku bersama kakak sepupuku yang sebelumya harus langsung
pulang ke rumah nenek, namun kami berencana nakal sedikit untuk tidak langsung pulang ke rumah, karena jika
kami langsung pulang ke rumah nenek pasti susah lagi harus merayu meminta izin
pada nenek untuk keluar rumah. Kami pun langsung memerintahkan montor yang kami
kendarai untuk melaju menuju rumah temanku untuk mengobati rasa rinduku
dengannya.
Sesampai di rumahnya sembari menunggu teman yang lain datang kami sedikit berbincang-bincang
dengan kalimat lawaknnya. Kami pun tertawa lepas, rasa bahagiaku bisa berkumpul
dengan teman-temanku membuat efek lelah dari berenang hilang seketika. Tak lama
kemudian teman yang kami tunggu telah
datang, kami berempat pun memutuskan untuk menikmati kebersaman kami
di luar. Akhirnya, tanpa berpikir lama sekitar pukul 14:00 WIB kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Randusanga
indah tempat rekreasi sederhana 3R (termurah,terjangku, terdekat).
Kurang
lebih sekitar dua puluh menit kami menempuh perjalanan untuk sampai di lokasi. Setelah sampai di
lokasi kami mencari tempat singgah yang nyaman untuk menikmati sumilir angin
pantai di waktu siang menjelang sore saat itu. Sembari menikmati pemandangan
ombak laut kami tak lupa kami memotret mendokumentasikan kebersamaan yang
tercipta saat itu yang mungkin bisa saja tidak terulang kembali . Secara
bergantian kami memotret tingkah gila dan alay kami yang tiba-tiba muncul karena
kebersamaan ini. Mengingat waktu sudah sore, dan kami rasa kemoterapi kerinduan
ini sudah cukup. Maka, kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Aku
dan sepupuku memutuskan pulang ke rumah
untuk mencegah kekhawatiran nenek yang berlebihan.
Mega merah pun mulai terlihat dan matahari telah menenggelamkan diri ke
arah barat suara adzan maghrib pun mulai terdengar oleh telingaku. Setelah melaksanakan
sholat maghrib aku dan sepupuku segera bersiap-siap untuk bergegas untuk
berangkat kondangan ke rumah teman kecil sakaligus teman sekolah madrasah dulu yang sedang melakukan resepsi pernikahan yang
akan segera diijab-sahkan oleh penghulu pada malam itu. Bukan aku saja yang
datang memenuhi undangannya tetapi teman yang lain pun berdatangan
bersama-sama, selain memenuhi sebagai tamu undangan kami juga merasa pertemuan
ini seperti reunian sekolah madrasah. Setelah kami foto bersama teman yang
sedang berbahagia merayakan pernikahannya, aku pun izin untuk pulang duhulu
mengingat aku harus prepare untuk pemberangkatan
kereta pagi pada esok harinya ke Semarang. Inilah perjalanan cerita
kebersamaanku pada hari libur terakhir dengan keluarga dan teman-temanku
sebelum berangkat ke tempat perantauan.
Semarang, 26 Februari 2018


Tidak ada komentar:
Posting Komentar